Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

9:21 AM
Klenteng Sam Poo Kong. Semarang bukan hanya terkenal akan makanannya yang menggoda selera, seperti lumpia, bandeng, ataupun nasi ayam Simpang Lima. Kota ini juga memiliki banyak tempat yang menjadi cagar budaya, selain peninggalan - peninggalan tua lainnya. 

Salah satunya yang wajib dikunjungi saat berada di kota ini adalah Klenteng Sam Poo Kong, yang oleh warga Semarang disebut Gedong Batu, yang terletak di daerah Simongan di barat daya Kota Semarang. 

Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng ini disebut dengan Gedong Batu karena merupakan sebuah goa batu besar yang berada pada sebuah bukit batu. Klenteng Sam Poo Kong merupakan tempat pemujaan kepada seorang laksamana Dinasti Ming (1368-1643) dalam masa pemerintahan Kaisar Yung Lo, yang diutus menjadi duta kaisar ke Nusantara dan mendarat di pantai Semarang pada tahun 1401. Tempat ini diyakini sebagai tempat petilasan pertama sang Laksamana, yaitu tempat persinggahan pertama beliau.

Pintu Masuk Klenteng
Bangunan inti dari klenteng ini adalah goa batu besar yang diyakini sebagai tempat pendaratan awal sang Laksamana. Di luar goa terdapat altar kecil berisi dupa, ditunggui seseorang seperti juru kunci goa itu. Peziarah yang datang melempar 2 kepingan atau sekumpulan batang bambu ke mulut goa. 

Lampion
Jika salah satu kepingan terbuka dan satu kepingan lainnya tertutup, mereka percaya akan memperoleh keberuntungan. Jika batang bambu yang dilemparkan, terjatuh di depan altar, batang bambu tersebut tinggal diserahkan kepada petugas. Petugas akan mengambil selembar kertas bernomor 1 sampai 28, disesuaikan dengan batang bambu yang jatuh. Kertas tersebut berisi syair-syair dengan makna merupakan bagian dari peruntungan nasib pelempar di masa depan, yang akan diterjemahkan oleh sang juru kunci tersebut.

Relief
Di sepanjang dinding yang menempel pada goa besar itu terdapat relief yang berkisah tentang rombongan Zheng He (Laksamana Sam Poo Kong), dalam tiga terjemahan bahasa yaitu Inggris, Indonesia dan China. Sam Poo Kong sangat dipuja karena ajaran-ajarannya, diantaranya adalah cara bercocok tanam, tata cara pergaulan hidup, dan cara bersyukur kepada Sang Pencipta alam semesta. 

Selain itu, dari terjemahan relief tampak sang Laksamana membina hubungan yang baik dengan Malaysia, terlihat pada dinding kesembilan, Zheng He mengawal Putri Han Li Bao utnuk dipersunting Raja Malaysia, Sultan Mansyur Syah, yang sangat terkenal. Tak mengherankan bila pada Klenteng Sam Poo Kong ada unsur perpaduan antara Budha dan Islam pada beberapa bentuk bangunannya.

Adanya cagar budaya Klenteng Sam Poo Kong di kota Semarang menunjukkan kehidupan berinteraksi antar sesama, dengan mengesampingkan perbedaan - perbedaan. Sebagai tempat wisata yang terpelihara dengan baik , klenteng ini juga memberikan tambahan devisa negara di sektor pariwisata.

Artikel Terkait

  • Objek Wisata Di Jawa Tengah Propinsi Jawa Tengah memiliki beberapa objek wisata yang sangat menarik bahkan ada yang terkenal sampai ke mancanegara ...
  • Pasar Klewer, Pusat Grosir Batik Pasar Klewer di Kota Solo memang sudah sangat terkenal, baik bagi warga Solo sendiri maupun bagi masyarakat di luar ko ...
  • Telaga Sejuta Akar, Jepara Objek Wisata Telaga Sejuta Akar. Jepara adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Selama ini kita mengenal Jepa ...
  • Berwisata Di Museum Kereta Api Ambarawa Museum Kereta Api Ambarawa merupakan sebuah museum terbuka yang dahulu adalah sebuah stasiun kereta api pada masa penj ...
  • Lawang Sewu, Misteri Pintu Seribu Lawang Sewu, sebagian besar orang pasti pernah mendengar nama ini. Nama ini lebih terkenal lagi karena sering muncul d ...
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

No comments