Keunikan Danau Kelimutu, Danau Tiga Warna

Objek wisata Danau Kelimutu atau yang biasa disebut Danau Tiga Warna yang terletak di puncak Gunung Kelimutu ini memang memiliki keunikan yang luar biasa. Di puncak gunung Kelimutu yang memiliki ketinggian 1.640 meter dpl ini terdapat 3 buah danau yang berbeda-beda warnanya yaitu merah, biru dan putih dan dapat berubah-ubah warnanya seiring berjalannya waktu. Danau Kelimutu sendiri terletak di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur tepatnya di desa Pemo kecamatan Kelimutu, kabupaten Ende dan berjarak 66 km dari kota Ende.

Nama Kelimutu berasal dari gabungan kata "Keli" yang berarti gunung dan "Mutu" yang berarti mendidih. Ketiga danau ini memiliki luas 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Dua danau memiliki jarak yang sangat dekat hanya dipisahkan semacam dinding, sedangkan danau yang satu berjarak sekitar 1 km dari danau lainnya.

Danau Kelimutu dari udara
Penduduk sekitar juga memberi masing - masing nama ketiga danau itu. Danau yang berwarna merah bernama "Tiwu Ata Polo" yang menurut kepercayaan penduduk setempat adalah tempat berkumpulnya orang yang meninggal yang selama hidupnya melakukan kejahatan. Sedangkan danau yang berwarna biru diberi nama "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" yaitu tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang meninggal, dan yang berwarna putih bernama "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya orang tua yang meninggal menurut kepercayaan mereka.

Keindahan Danau Tiga Warna
Keindahan danau ini pertama kali ditemukan oleh seorang Belanda pada tahun 1915 yang bernama Van Such Telen dan semakin dikenal luas oleh masyarakat setelah Y.Bouman melukiskan keindahannya dalam tulisannya pada tahun 1929. Dan sejak tanggal 26 Februari 1992 kawasan Kelimutu ini menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional.

Keunikan danau ini selain mempunyai 3 warna itu sendiri juga bisa berubah warna seperti danau yang berwarna merah bisa menjadi coklat maroon kadang juga hitam dn sebagainya. Perubahan warna yang terjadi di danau ini karena beberapa faktor seperti aktivitas vulkanik gunung itu sendiri, pembiasan cahaya matahari, dan karena biota air tertentu.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi danau ini adalah pagi hari karena saat siang sampai menjelang sore kabut menyelimuti danau tersebut. Sobat bisa menginap di homestay yang tersedia di kampung Moni yang letaknya dekat dari lokasi danau yang bertarif mulai 40 ribu sampai 75 ribu rupiah per malam dengan fasilitas tanpa AC karena udaranya sudah dingin. 

Di Bibir Kawah
Jarak kampung Moni ke danau adalah 14 kilometer dan bisa ditempuh dengan menaiki mobil atau truk kayu yang ada disana. Sekitar 45 menit perjalanan menggunakan mobil, sobat harus turun dan berjalan kaki menuju bibir danau/kawah selama 20 menit dengan melewati anak tangga dan jalan bebatuan. Akhirnya pemandangan yang luar biasa akan sobat dapatkan. 


Blog, Updated at: 12:47 AM

1 comments:

Artikel Terbaru

Advertisement

Google+ Followers

Arsip Blog